Ini Kisah Tentang Prinsip!
Ada
seorang pemuda kelahiran Jakarta asli orang Betawi bernama Prinsip, nama
lengkapnya Muhammad Prinsip, agak unik memang, Babenya asli Betawi bernama
Alimuddin bin Toha dan emaknya asli Solo tapi besar di Jakarta. Bang Ali,
panggilan Babenya Prinsip memutuskan memberi nama anaknya Prinsip karena saat
itu sedang ramai pergolakan politik di tanah air, sudah banyak kecurigaan akan
kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh para petinggi negara, sekarang lebih
populer disebut KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).
Bang
Ali adalah seorang yang berpendidikan, beliau adalah seorang Sarjana Teknik
Sipil, sebagai Mahasiswa yang aktif berorganisasi, beliau rajin mengikuti
berbagai pergolakan politik yang saat itu dikuasai oleh rezim orde lama, sering
beliau ikut rapat maupun rundingan mengenai reformasi. Berjuang bersama banyak
teman sangat menyenangkan baginya, memuaskan jiwanya yang kehausan akan
keadilan dan kejujuran, beliau adalah orang yang sangat idealis. Sampai suatu
saat beliau sangat kecewa sekali kepada sahabatnya, sahabat seperjuangan,
seorganisasi yang selama ini selalu berusaha membela rakyat, menentang ke-otoriter-an
penguasa. Burhan yang dulunya sangat idealis dalam menentang orde lama, berubah
total setelah berkecimpung langsung dalam politik, padahal tujuan awalnya masuk
politik adalah untuk menguak semua kebobrokan politik negeri ini dan menjadi
politikus yang baik dan benar. Tapi kenyataannya lain, Burhan seketika buta,
bisu dan tuli diselimuti kekayaan.
Bang
Ali sangat menyesal telah membantu sahabatnya dikala itu untuk menjadi
politikus, beliau sangat kecewa melihat temannya yang tidak bisa mempertahankan
prinsipnya yang mereka kumandangkan semasa menjadi mahasiswa. Bang Ali sangat
paham bahwa nama adalah doa, maka ia memberikan nama Muhammad Prinsip kepada
anaknya dengan harapan agar anaknya kelak memiliki sikap dan perilaku terpuji
seperti Nabi besar Muhammad SAW, dan dapat tumbuh menjadi anak yang selalu
berani memegang dan mempertahankan prinsipnya.
Prinsip
semasa kecil selalu merengek pada emak dan Babenya meminta ganti nama karena
sering di olok temannya sehubungan dengan namanya yang unik. Prinsip belum
mengerti artinya, belum mengerti maksudnya, dan belum mengerti susahnya menjaga
nama tersebut.
Dua
puluh tujuh tahun berlalu sejak ia dianugerahi nama Prinsip oleh Babenya, baru
sekarang ia merasakan sulitnya mewujudkan doa orangtuanya yang ingin Prinsip
memegang prinsip. Prinsip dewasa kini sudah bertitel Master, dan sudah bekerja
sebagai pegawai negeri dikantor yang mengurusi bidang pertanahan. Atas didikan Babenya
yang sangat peduli akan ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, keadilan sosial, dan
kesejahteraan rakyat, Prinsip pun tumbuh menjadi anak yang diinginkan orang
tuanya. Prinsip tidak merokok, tidak minum, tidak narkoba, tidak seks bebas,
pokoknya tidak melakukan pergaulan bebas yang liar. Prinsip melanjutkan
kuliahnya ke bidang hukum,dan berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu
dengan predikat Terpuji. Lepas sarjana Prinsip lolos ujian CPNS, dan bekerja di
salah satu badan yang mengurusi pertanahan. Tak puas akan titel sarjananya, dan
demi kariernya, Prinsip melanjutkan ke jenjang S2, mendalami bidang hukum
pertanahan.
Prinsip
cukup beruntung, kariernya cukup bagus, 5 tahun bekerja, ia sudah diangkat
menjadi Kasi Wilayah, status pegawai negerinya sudah golongan IIIC. Seiring
meningkatnya karier cobaan Prinsip semakin mendera. Sebagai anak semata wayang,
Prinsip menjadi tumpuan hidup orang tuanya, Babenya sudah pensiun dan uang
pensiun sudah habis dibelikan rumah untuk Prinsip di dekat kantornya, maklum
tempat bekerja Prinsip berada jauh dari rumahnya yang ada di pinggiran Jakarta.
Tanah dan kebun milik Babenya sudah habis untuk biaya pengobatan emak yang
selama ini ternyata mengidap kanker payudara. Karena masih ada uang untuk
pengobatan, emak pun sembuh total.
Selama
ini Prinsip cukup berhasil menjaga prinsipnya, untuk tetap jujur sebagai
pegawai negeri yang baik dan benar, yang tidak KKN ataupun menerima suap. Namun
seketika berubah ketika Babenya, Bang Ali jatuh sakit, Prinsip dan emaknya tahu
bahwa selama ini Bang Ali sakit, namun Bang Ali selalu berhasil meyakinkan
bahwa ia sehat dan tak perlu rumah sakit. Sampai ketika itu Bang Ali akhirnya
roboh, tak kuat menanggung segala sakit di seluruh tubuhnya. Setelah dilarikan
kerumah sakit, hasilnya sungguh mencengangkan, Bang Ali mengidap komplikasi
dari berbagai penyakit. Beliau di vonis gagal ginjal, dan kanker paru-paru.
Seperti langit runtuh pada hari itu, emak dan Prinsip menangis, sangat sedih
sekaligus bingung harus bagaimana. Memang selama ini Babe adalah seorang
perokok berat, wajar bila paru-parunya bermasalah, tapi gagal ginjal? Mungkin
karena kelelahan beraktifitas sepanjang hidupnya. Dokter menyarankan agar Babe
rutin menjalani cuci darah, selain itu Babe harus operasi untuk mengatasi
kankernya, dan berbagai perawatan lain untuknya.
Dua
tahun berlalu, tapi Bang Ali masih enggan menjalani operasi, beliau sadar
selama dua tahun ini ia sudah menghabiskan banyak biaya untuk pengobatan, cuci
darah dan berbagai perawatan lainnya, Bang Ali juga yakin uang tabungan Prinsip
sudah menipis. Prinsip yang selama ini berhasil memegang prinsip, akhirnya
bimbang, dan semakin goyah ketika Bang Ali anfal dan akhirnya kritis karena
komplikasinya. Yang dimiliki hanya tinggal rumah hasil pembelian uang pensiun Babenya,
uang ditabungannya hanya cukup untuk makan dan ongkos bulan ini. Prinsip
memutar otak kekanan-kekiri mencari jalan keluar, hampir semua saudara dekat
sudah ia datangi demi pinjaman uang. Sepertinya setan tahu saja kapan manusia
harus digoda. Ditengah kebimbangan hatinya datanglah seorang asisten kontraktor
ternama ke kantornya untuk membuat janji pertemuan. Keesokan harinya sang
kontraktor, sebut saja dia pak Agum, datang menemuinya di kantor. Sebenarnya
sudah sering ia dalam posisi ini, dalam posisi akan di suap, sudah berpuluh
kali ia hadapi orang-orang seperti Pak Agum yang ingin agar kepentingannya
dilancarkan dengan bantuan kekuasaan yang dimiliki Prinsip. Dan berpuluh kali
juga Prinsip berhasil menolak dengan tegas orang-orang seperti Pak Agum, sampai
saat ini walaupun dengan bimbang dan hati yang sangat berat.
Dalam
kritisnya, Bang Ali terus menolak operasi, ia tahu anaknya sudah tak punya
tabungan, beliau tak sudi anak kebanggaannya melakukan praktek yang selama ini
dibencinya, Korupsi, hanya demi mengobatinya. Prinsip kemudian menjual rumah
yang selama ini ditempatinya, sebagian uangnya disimpan untuk biaya kontrakan,
sebagian lainnya untuk biaya operasi Babenya. Bang Ali baru setuju menjalani
operasi setelah mendengar uang yang digunakan adalah uang halal. Operasi berjalan lancar namun Bang Ali harus
tetap menjalani berbagai terapi, uang banyak masih tetap dibutuhkan.
Disamping
berbagai cobaan menerpa, ada seorang gadis, teman sekantornya, Annisa. Prinsip
dan Annisa saling mencintai dan saling menerima kekasihnya apa adanya.
Perjalanan cinta mereka mulus sekali sampai suatu ketika bersamaan dengan
keluarnya Bang Ali dari rumah sakit, Annisa memutuskan cinta mereka. Terpaksa.
Annisa yang sangat penurut terpaksa mengakhiri hubungannya dengan Prinsip
karena dipaksa ayahnya. Ada seorang anak pengusaha rekanan ayahnya yang datang
melamar dengan menjanjikan banyak harta. Annisa dengan tegas menolak, namun
kehendak sang ayah lebih berkuasa, ayahnya terus memaksa dan mengancam agar
Annisa mau menerima lamaran tersebut. Mental Annisa kalah meski cintanya takkan
goyah. Prinsip kecewa, lantas mendatangi rumah Annisa untuk berbicara langsung
dengan orang tua Annisa. Ayah Annisa mensyaratkan banyak hal, khususnya harta.
Dalam jangka satu bulan Prinsip harus mengumpulkan uang untuk melamar Annisa
sebesar uang yang ditawarkan anak pengusaha sebelumnya.
Prinsip
semakin bimbang. Pak Agum yang pantang menyerah datang lagi, menawarkan hal
yang sama, yaitu miliaran uang untuk Prinsip agar dapat membantu membebaskan
lahan perkampungan kumuh untuk dijadikan hotel. Bibir Prinsip terlalu kelu
untuk menolak. Prinsip hanya bisa diam termenung, merenungi nasibnya, juga
merenungi nasib penghuni kampung kumuh yang ingin digusurnya. Sungguh amatlah
besar beban yang ditanggungnya, Prinsip hanya bisa bimbang dan ragu dalam
diamnya. Prinsip memutuskan untuk tidak memberi jawaban pada hari itu, ia
meminta diberikan waktu dua hari untuk berpikir. Prinsip yang polos dan sangat
takut dosa menceritakan segala kegundahan hatinya pada sang ibunda, emaknya
tercinta. Tak disangka Babenya mendengar, dan amatlah geram mendengar anaknya
berencana akan menerima suap tersebut. Bang Ali amat sangat terkejut, beliau
akhirnya pingsan sambil memegangi dada.
Ruang
UGD terasa amat dingin malam itu, Bang Ali sadar, dan langsung mencari-cari
Prinsip. Bang Ali merasa hidupnya tak lama lagi, beliaupun berpesan “Babe kagak
rela, kagak rido, kalo elu tong, anak kesayangan, kebanggaan Babe, ikut-ikutan
jadi orang kotor! Babe kagak terima kalo elu sampe korupsi nak! Demi Allah Babe
kagak rela! Biarin Babe mati asal elu tetep jujur, seperti doa Babe dalam name
lu tong, Prinsip, Babe pengen lu terus jaga prinsip lu yang dulu! Babe mohon..
“. Prinsip hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Terbawa akan kesedihan dan
kebimbangannya. Antara prinsip dengan hidup-mati Babenya, juga cintanya. Bang
Ali semakin kritis, Prinsip semakin bimbang, dan timbullah ide untuk menerima
suap itu, tapi kemudian ia berjanji akan menganggapnya sebagai hutang dan akan
memulangkannya. Bang Ali berada di puncak kritisnya, Prinsip pamit kepada
ibunya untuk menemui Pak Agum.
Dengan
terburu-buru karena dikejar waktu kritis Babenya, Prinsip menyeberang. Prinsip
berlari sangat laju di tengah kepadatan jalan malam itu. Seketika Prinsip
merasakan tubuhnya sakit, ia terpental jauh ke trotoar, dan kemudian sakit itu
hilang. Prinsip meninggal seketika. Kabar langung datang dengan cepat ke
telinga emak dan Babe karena Prinsip dilarikan ke rumah sakit yang sama dengan Babenya.
Emak histeris meratapi nasib anaknya, nasibnya kelak. Babe tersenyum mengucap
“innalilahi wa innaillaihi rojiun” dan kemudian mengucap “alhamdulillah”. Meski
sedih, Bang Ali bersyukur karena anak kesayangannya, kebanggaannya, dapat
meninggal dalam keadaan yang baik, masih sebagai orang baik, belum sempat
untuknya bertindak bodoh, Allah yang sangat menyayanginya kemudian mengambilnya,
agar ia tetap menjadi orang yang baik, meninggal sebagai orang yang baik, yang
jujur, tetap teguh memegang prinsip. Itulah Prinsip. Muhammad Prinsip.
Jatinangor,
26 Januari 2012
22.05
Komentar
Posting Komentar