Itinerary dan Budget Backpacker ke Annapurna Basecamp (ABC) Nepal April 2019 - Part 1

Namaste!

Himalaya itu udah jadi impian semua orang yang suka naik gunung sih pastinya. 

Pertanyaannya, apakah memungkinkan untuk mendaki Himalaya? Secara puncak tertinggi dunia ngumpul disitu, Everest, Dapsang, Kangchenjunga, Lhotse, Makalu, Dhaulagiri, Manaslu, Annapurna, dan tetangganya yg lain.

Jawabannya, amat sangat memungkinkan untuk sekedar mendekati puncak-puncak tsb. Dengan budget yang masih affordable dan waktu yang lumayan minim.

Caranya, 
1. Pertama cari info, aku baca blognya kapankemana.net sama bokekpacker.blogspot.com sama cari-cari info di IG dg #annapurnabasecamp DAN disini juga saya akan share info, tips, dan pengalaman saya pas kesana.
2. Cari temen, susah nyari temen untuk traveling, harus cocok jiwa raganya biar nyaman jalan-jalannya. Susah nyari temen yg diajak ke Nepal, terkait budget, lamanya cuti, kekhawatiran, dll dll. DAN alhamdulillah gue menemukan temen yang tingkat gila dan nekat nya setara sama gue, yaitu beta si kribs yg buta arah, temen kantor, yang ga pernah naik gunung sama sekali dan mau aja gue ajakin ke Himalaya.
4. Tentukan waktu! Penting hukumnya karna seperti di Indonesia, musim di Nepal juga berganti hahaha. Baiknya bulan apa? Tergantung. Kalo paling aman menurutku Mar-April, masih saljuan tp gak separah Dec-Jan-Feb. Oct-Nov mungkin udah dingin tp salju belum banyak. Mei ke atas udah masuk musim ujan, lalu kemarau, gak bisa memijak salju kalo kesini musim kemarau. 
5. Budget, nabung wey, kurangin jajan, kalo udh niat pasti kekumpul kok. Yokmangat yok.
6. Beli tiket, susun itinerary, baca bismillah, berangkat.

Poin paling penting kalo kalian backpackeran: ITINERARY yang jelas dan detail!

Jakarta - Nepal (Jumat 26 April 2019)
Malindo Air, incl bagasi 1.6 Juta
JKT - KUL : 05.10 - 08.20
KUL - KTM : 10.30 - 13.00
Paling aman pilih flight yang sampai di Kathmandu siang, karena kami ngejar waktu untuk bikin Trekking Permit hari itu juga, itinerary tight banget, secara kami ini budak korporat yang jatah cutinya terbatas. Nepal Tourism Board (tempat ngurus TIMS dan ACAP) tutup jam 16.00.

Tribhuvan International Airport Kathmandu
Sesaat sebelum landing, udah keliatan dari jendela pesawat itu jejeran puncak gunung bersalju dikejauhan udh manggil-manggil. Mendekati landasan, mulai kelihatan jajaran bangunan di ibukota Nepal, yang menurutku unik. Lanskap kota ini kayak perbukitan gitu, terus bangunannya mostly berbentuk kotak kayak ruko yang mirip-mirip semua bentuknya berjajar rapi, tidak ada gedung pencakar langit.
Ternyata rumah-rumah di kathmandu itu rata-rata bangunan berbentuk kayak ruko kotak/ rumah susun pendek, yang terdiri dari beberapa lantai yang dihuni oleh satu atau lebih keluarga. Selama disana sih gue belum pernah liat komplek perumahan atau bangunan rumah yang kayak di Indonesia. Atau mungkin gue yang mainnya kurang jauh, gak sanggup, debu nya Masya Allah.

Tribhuvan Airport menurutku ngga kayak International Airport pada umumnya, hahaha. Tidak terlalu besar, fasilitas, interior dan furnitur cenderung biasa saja. Bagi WNI, masuk Nepal menggunakan VOA (Visa On Arrival) yang diurus langsung di bandara Tribhuvan sebelum melewati imigrasi.


Prosedur pembuatan VOA Nepal Kalian WAJIB BACA

Biaya VOA: Tergantung lama kamu stay, 25 USD untuk 15 Hari, 40 USD 40 hari. Gue ambil 15 hari sahaja cukup.
Siapkan: Paspor, Alamat Hotel, Nomor Telp yg bisa di hub di Nepal dan Pulpen.
Isi Disembarkation Card yg udah disediain disana, isiannya standar kayak arrival card di negara lain.
Kemudian kamu ngantri lan di Mesin VOA untuk isi Visa Aplication Form, isi data yang diminta, terus nanti mesinnya akan foto wajah kalian abis itu minta scan paspor (Kalo kelen takut bingung, disitu ada petugasnya kok yang bantu ngarahin, panggil aja). Setelah itu akan keluar struk.
Ingat bahwa semua struk yang kamu dapat saat apply VOA wajib kamu simpan.
Setelah itu, segera antri di loket pembayaran VOA, deket sama mesin itu kok, langsung pas didepan pintu masuk. Kalian kasih struk visa, paspor dan uang PAS. WAJIB UANG PAS dlm bentuk USD. Setelah bayar kelen akan dikasih struk lagi, ingat disimpan struknya.
Paspor + Arrival Card + Struk VOA + Struk pembayaran VOA + dokumen booking hotel dan tiket balik *buat jaga-jaga aja pengalaman pernah ditolak imigrasi aqutu haha* dijadiin satu dan antri lah di gate Imigrasi, jangan lupa bismillah dan senyum yang manis saat menghadapi Immigration Officer.
Tenang aja, imigrasi Nepal gak se tegang imigrasi negara lain sih haha.

KATHMANDU
Ibukotanya Nepal, yang jauh diluar ekspektasi gue. Hahaha.

Setelah per visa an selesai, ke toilet, cari money changer, subuah tips: kenegara manapun better kelen bawa USD semua atau sebagian, jangan langsung tuker mata uang negara tsb kalo kalian blm yakin pakan spending berapa, sayang kalo dituker balik ke USD apalagi rupiah pasti bakal jatoh bgt. Surprisingly setelah aku compare, tuker di bandara dengan di thamel street atau di pokhara, jauh lbh murah di bandara, posisi sebelum pintu keluar bandara percis ada money changer. Ingat, jangan tuker semua uang kalian, dan jangan tuker pake rupiah, kaga laku.

Keluar bandara langsung kami dikerubungin supir taksi dan calowan calowati. Tenang aja, pasang tampang sotoy dan angkuh udah paling ampuh, jalan sedikit agak jauh dari pintu masuk, mereka akan ngikutin terus, dengerin aja. Mereka akan rebutan, tawar-tawaran, saling murah murahan harga, demi mendapakat kalian *ciee. Jangan heran kalo mereka sampai adu mulut dan bertengkar, cuekin aja dan pasang tampang santuy aja. DAN akhirnya gue dapet taxi termurah ke Nepal Tourism Board Office deket Thamel Street, hanya 200 NPR Sahaja, setara 25 ribu rupiah. Jangan heran kalo sopir taksi/calo yang kalian gak pilih bakal marah-marah dan nakut-nakutin kalian;
"He has no car, he is not a taxi driver, he is a scammer mam! don't trust him!"
Sekejap sempet worry sih, soalnya ternyata bapak yg gue pilih ini bukan taxi resmi, jadi dia parkir mobil di parkiran sekitar 500 meter dari money changer tadi, tapi nyatanya kita sampai dengan selamat dan sehat dan tepat waktu di Nepal Tourism Board.

First Impression tentang Kathmandu
BERDEBU dan GAK ADA LAMPU MERAH
When I say berdebu, I mean it, ya di jalanan itu debu-debuan, asap knalpot, pasir terbang, jadi satu dijalanan kathmandu yang terik pada saat itu.
Dan YES, ga ada lampu merah, yang ada di tengah persimpangan jalan pasti ada PAK POLISI yang menggantikan peran lampu merah.
Kotanya kayak bukan ibukota negera lain yang pernah aku kunjungin, ga ada gedung pencakar langin, mostly bangunan kayak ruko-ruko jadul gitu, oh i see, kayak di jawa-jawa kan suka ada pasar-pasar tua gitu kan, nah kayak gitu, tapi debu an. Unik!


Bersambung...
Lanjut Ke Part 2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Backpacker Ke Jogja

Tous Les Jours... "authentic bakery" #enak

Backpacker to Pangandaran