Bromo - Probolinggo - Penelitian Teman
Ke Bromo modal tenaga, kok bisa? hehehe check this..
Rabu, 21 April 2012
Saya memutuskan untuk membantu penelitian teman baik saya, Gon2 a.k.a Delima, alasannya;
1. Gon2 itu satu2nya perempuan dalam kelompok penelitian tsb, sedangkan mereka penelitian di Probolinggo Jawa Timur, saya memutuskan untuk menemani.
2. Saya lagi nganggur, daripada stuck mikirin draft usulan penelitian mending saya bantuin temen, biar rada berguna sedikit. Mumpung gratis juga, karna judulnya bantuin mereka, jadi gak patungan mobil, hehe.
Kamis, 22 April 2012
Rabu, 21 April 2012
Saya memutuskan untuk membantu penelitian teman baik saya, Gon2 a.k.a Delima, alasannya;
1. Gon2 itu satu2nya perempuan dalam kelompok penelitian tsb, sedangkan mereka penelitian di Probolinggo Jawa Timur, saya memutuskan untuk menemani.
2. Saya lagi nganggur, daripada stuck mikirin draft usulan penelitian mending saya bantuin temen, biar rada berguna sedikit. Mumpung gratis juga, karna judulnya bantuin mereka, jadi gak patungan mobil, hehe.
3. Saya juga butuh bantuan teman untuk penelitian saya kelak, jadi niatnya mah menanam kebaikan agar bisa dipetik dikemudian hari kelak.
Kamis, 22 April 2012
Kami berangkat menuju Probolinggo, ternyata kami ber 5, Kang Rido, Kang Oki, Gon2, dan ternyata si Teh Sinta juga ikut. Berangkat pukul 07.00 dengan mobil carteran dengan Pak Ujang (tidak saya rekomendasikan, saya ceritakan kemudian) sebagai drivernya. Saya hanya bawa 1 ransel kecil berisi 4 potong kaos, satu celana pendek, handuk, sarung (persiapan kalo harus nginep di mesjid), peralatan mandi, charger HP, dan snack secukupnya. Bawaan mereka seabreg, tentu saja, kan mereka penelitian, banyak alat2 yang harus dibawa. setelah checking barang, kami berangkat, atas saran supir yang terhormat, kami lewat jalur selatan pulau jawa. Pagi yang cerah, perjalanan yang menyenangkan.. Supir masih tenang, kendaraan melaju lancar. Pas jam makan siang kami singgah di rumah makan di daerah Banyumas, ada yang lucu disini, menu rawon, tapi tidak hitam, rasa seperti soto di tambah sambal kacang dan segelas es teh manis, lumayan, Rp. 12.500,- *criing. Perjalanan masih lancar sampai memasuki wilayah Cilacap, jalanan rusak beraat!, no problemo, kami terus melaju sampai Jogja. Sekedar info, sepanjang perjalanan, kami diiringi oleh suara sumbang saya dan teman2. Jogjakarta, kami sampai di kota ini sore menjelang magrib, karena melewati tengah kota jalanan lumayan padat merayap, dipenuhi pemudawan dan pemudawati yg hilir mudik bergaul ataupun dalam perjalanan pulang. Jikalau tidak ingat ini adalah perjalanan dengan maksud dan tujuan penelitian, kami akan singgah sejenak untuk menikmati Jogja di sore hari, sayang, kami dikejar waktu. Jogja terlewati, sampai di Solo, dan kamipun nyasar di tengah kota sodara-sodara.. berbekal bahasa jawa yang amburadul, kami bertanya kanan kiri, ehehe, kenapa tidak pakai GPS or google map? sudah sodara-sodara, jadi GPS milik si Gagap tidak berfungsi dengan baik di dalam mobil itu, kami menduga ada alat pelacak di mobil yag menghalangi sinyal GPS *lebay. Google map sebenarnya sangat membantu, tapi lagi-lagi sinyal dalam mobil terganggu, entah kenapa, sebenarnya google map dari handphone saya bisa, tapi sayang tidak ada pulsanya, heheh. Ada yang menarik di Solo, hampir tettabrak taksi avanza dan lihat banyak kedai sate guk-guk or guk-guk rica-rica. Jl. Ahmad Yani yang kami cari, karena agak frustasi kami memutuskan untuk singgah makan malam sejenak, menu dinner saya adalah entog rica-rica dan lagi-lagi es teh manis, Rp. 11.500,- *criing. Sepanjang makan saya parno akan tomcat, pertama kali saya lihat serangga itu di tempat tissu, dan bentuk rupanya mirip sekali sama yang di tipi.
Lanjutkan perjalanan, jalan yang kami cari dekat dari situ, kami pun tidak menemui kesulitan yang berarti sepanjang jalur ini, saya juga tidak tahu sebenarnya saya tidur waktu itu, hehe. Bangun-bangun kami sudah di Surabaya, kami nyasar lagi, kantuk yang terlalu hebat menguasai mata saya, saya tidak peduli apakah nyasar atau tidak, saya tidur lagi, serahkan semuanya pada sang supir dan akang2 yang bijak, haha. Subuh-subuh kami sudah di dekat Probolinggo, masih di Surabaya tapi, saya terbangun ketita istirahat di SPBU setempat. Sekitar pukul 07.00 kami sampai di tempat tujuan, peternakan domba yayasan rumah zakat.
Berhubung penelitian baru bisa dilaksanakan esok hari, kami memutuskan mencara sarapan dulu, meluncur ke arah bromo, berharap disekitar situ banyak rumah makan enak. Satu kilometer, dua, tiga, lima, tujuh, kanan kiri hanya kebuh dan rumah penduduk, tidak ada satupun rumah makan *mungkin org bromo udh kaya semua, kagak ada yg buka warung*. Terus menanjak ke atas, kami sampai di pertigaan ke surabaya, yeah, finnaly! ada rumah makan sederhana, lumayan, nasi rawon + kerupuk hanya Rp. 9500,- saja *criing. Habis makan lanjut ke Bromo!! breeem, katanya 19 kilo lagi, kirain deket, ternyataaaa, jauuhh, tapi gak kerasa kok, pemandangannya baguuuus banget! sulit di deskripsikan, hmm, saya coba, hmm, jalanan berlika-liku, sebelah kanan ada perkebunan, tebing dan perumahan penduduk sebelah kiri jurang, ada kali yang berbatu2 juga, pokoknya mantap, agak mendekati bromo, kita akan ngeliat gunung di sebelah kanan yang kelihatan besaaar dan tinggi dan dekaat sekali, alur bekas lava terlihat sagat jelas karena jarangnya pepohonan, baguss!. Setelah agak lama (saya gak ngitung pke stopwatch jd gak tau pastinya), kami di hadang sekelompok calo mobil jeep, sebelumnya kami pikir kami hanya boleh parkir sampai situ, eh ternyata kita diakalin calo, jeep sampai bromo Rp. 300.000,- kalo 3 lokasi ke padang savana, pasir berbisik dan bromo harganya Rp. 500.000,-, buseeet! ogah! kami berpikir cepat, kami bilang: "kita mau jalan kaki aja pak ke bromo nya" alhasil mereka berhenti memaksa dan mempersilahkan kami melanjutkan perjalanan ke atas *fiuh. Sampailah kita di tempat parkir sekaligus paguyuban jeep aseli! harga yang dipatok Rp. 200.000,-/mobil ke bromo sajah, kalo ke 3 lokasi lainnya cukup Rp. 350.000,- sajah sepuasnya, lumayan. Setelah perdebatan dan percekcokan sekian lama dengan teman2 dan supir jeep, kami memutuskan sewa satu mobil (kami sempat nekat mau jalan kaki, padahal nggak tahu medan,hehe) dengan tujuan Bromo saja, patungan Rp. 40.000,- / orang *criing. Jeep merah mengantar kami ke kawasan bromo. Tiket masuk kawasan Bromo Semeru Tengger bagi wisatawan lokal hanya Rp.6000,- saja *criing (qt dapet diskon buy 5 get 1 free loooh). Jalanan menurun menuju kawasan berpasir di hamparan bawah gunung bromo, pemandangan pertama yang saya lihat adalah, pohon-pohon mati sisa dilalap awan panas dari bromo yang bererupsi beberapa bulan yang lalu. Sepanjang mata memandang, kami memasuki lautan pasir, kurang lebih luasnya 5000 hektar (menurut dephut.com), warna pasir hitam, dengan adanya efek2 pasir berterbangan semakin mendramatisasi keadaan, kami serasa ada digurun, tapi gurun pasir yang dinginn sekali.
Sejauh pandangan saya sungguh takjub, begitu indah, sekeliling adalah deretan gurung yang berjajar saling beriringan mengelilingi kami, tapi yang saya tau namanya hanya gunung Bromo, Semeru dan gunung Batok. Keluar dari mobil jeepsaat itu serasa masuk freezer saat cuaca panas lho, tiba-tiba dingiiin semriwiiing!. Pantas dandanan warga aseli Bromo (suku tengger) sangat unik, berpakaian super tebal, sarung tangan, plus kupluk dan berselendangkan sarung di badan mereka, kurang lebih seperti ini:
Untung saya tidak salah kostum, walaupun tangan masih harus beku karena lupa bawa sarung tangan, tapi no problemo laah. Ternyata, eh ternyata, kami diturunkan di tengah2 gurun pasir doong sama pak supir, kita disuruh jalan kaki ke pendakian gunung Bromo nya, buset, itu ya jauuuuuuh banget, mana dingin pula, wew!. Modusnya adalah kita disuruh naik kuda ke pendakian, yeah! berhubung kagak punya duit, kita jalan aja, semangat tingkat tinggi. Kami mengabadikan beberapa gambar sembari jalan. Semangat agak sedikit luntur setelah angin semakin kencang dan gerimis mulai mengundang dan saya rasa kita gak sampai-sampai dari tadi, hmm, dua orang kawan ingin menyerah dan kembali ke mobil, sedangkan saya dan dua kawan lainnya merasa sangat sayang pada uang 40 ribu yang telah dikeluarkan, kami bertiga ngotot lanjut ke atas sambil ujan2an, yeaaah! (kapan lagi gw ke Bromo, kalo gak sekarang). Dua kawan yang tadinya menyerah terpaksa ikut, dengan sangat terpaksa agaknya, haha. baju sudah kuyup, tapi kami belum juga sampai, padahal kami melalui jalan tembus langsung, tidak melalui jalan setapak yang biasa dilalui kuda dan pejalan kaki lainnya. Alhasil, jalur berpasir naik turun dan miring gak jelas yang kami lalui, tak apa, yang penting cepat sampai bos!. Setelah jalan kaki melewati pura, gunung batok, dan lautan pasir selama kurang-lebih 20 menit, kami sampai ke titik pendakian gunung Bromo, ternyata masih harus naik ratusan tangga untuk mencapai kawah, oalaah. Kami istirahat sebentar di dekat tangga, duduk-duduk sambil kembali mengisi tenaga, banyak bapak-bapak dan mas-mas yang wara wiri jualan kembang, katanya sih kembang edelweis, padahal bukan sodara-sodara, saya tidak norak kok, saya pernah liat edelweis aseli, yang dijual berupa karangan bermacam2 jenis bunga gunung warna-warni, dijual dengan harga aneh, harga untuk bule mencapai puluhan ribu! waktu itu ada yang menawarkan 50ribu, weeh, kalo sama saya mereka nawarin 20ribu, saya gak tertarik mas. Semangat kembali timbul untuk mendaki ratusan anak tangga itu, saya terlalu sibuk terengah-engah dari pada menghitung jumlah anak tangga tersebut. Kondisi tangga beton tersebut hampir runtuh, sudah tidak layak, bukan karena kurang perawatan, tapi karena efek letusan Bromo beberapa waktu yang lalu da belum sempat diperbaiki, saya cukup kesulitan karena anak tangga yang licin karena basah dan pasir dan pegangan tangga yang rusak. Rasanya lega sekali setelah sampai di bibir kawah, cuma bisa bilang " it's worth it!" hahah, benar-benar awesome! saya kagum atas ciptaan tuhan yang benar-benar indah tiada tara ini *rada lebay sedikit*. Mobil tumpangan kami tidak terlihat dari atas sini, hanya setitik benda merah saja, hahah *bener2 lebay*, kawah Bromo sangat lebar, sekali lagi, karena bekas letusa beberapa waktu yag lalu, jalur setapak bibir kawah yang mengelilingi kawah bromo sudah tidak berbentuk, tertutup pasir total setinggi batas pagar beton, malah lebih tinggi, jadi saya dan teman2 hanya berani berdiri-duduk diam di dekat tangga *ngeri*. Setelah mengoleksi beberapa gambar, kami turun gunung, tidak tahan dinginnya sodara-sodara. Perjalanan turun tidak kalah indah dan capeknya, tapi kami tetap narsis di tengah kelelahan waktu itu, untung hujan tidak kembali datang. Tangan saya kebal (mati rasa) ternyata, saking kedinginan kayaknya. Oke! setelah sampai mobil dan puas ber narsis ria, kami terpaksa pulang, sejak sampai kami belum menemukan kasur, kangen sekali sama kasur dan bantal.
Kita skip aja perjalanan pulang, kemudian proses kami mencari hotel, atas saran pegawai peternakan tempat penelitian teman saya, kami mencari hotel yang namanya hotel Moronyoto, kembali terjadi perdebatan serius masalah hotel, kemudian keputusan tetap ambil 2 kamar di hotel tersebut, satu kamar dua bed, karena kami berenam (plus supir) jadi 3 cowo dan 3 cewe masing2 dalam kamar yang berbeda, harga satu kamar standar (paling murah) double bed fasilitas kipas angin, wc dan tv adalah Rp. 70.000,- plus ekstra bed Rp. 20.000,-, berhubung saya tau diri, jadi saya ikutan bayar buat ekstra bednya aja Rp. 20.000,- *criiing. Kondisi hotel dan pelayanannya tidak akan saya sebutkan disini, silahkan coba sendiri saja ya. Kemudian kami cari makan, jajan, dan istirahat, karena tidak ada yang spesial yang perlu diceritakan mari kita skip sajah ya.
Pagi hari kami bersiap ke peternakan untuk penelitian, penelitian kami hari ini adalah mengukur status faali dan mengambil darah domba. Bagi yang tidak tahu, status faali itu mencakup suhu tubuh/rektal, denyut jantung, nadi dan pernapasan. Pengambilan darah domba dilakukan melalui pembuluh darah vena di daerah leher sebelah kanan atau kiri, menggunakan alat yang dinamakan venoject, yg terdiri atas jarum dan venotube. Domba yang di uji ada 20 ekor, satu ekor domba di ukur faali sebanyak masing-masing 3 kali. Kami mulai pukul 8 pagi dan selesai pukul 8 malam, oiya, kami istirahat makan siang dengan menu nasi jagung + sate + kerang + es teh manis dengan harga Rp. 12.500,- saja *criing. Selesai ambil data penelitian kami pamit, dan langsung pulan, kami singgah untuk dinner di rumah makan bakso di jalan soekarno-hatta Probolinggo. Menu saya malam itu adalah bakso dengan lontong dan segelas es teh manis seharga Rp. 13.000,- *criing. Karena badan bau domba, dan agak gatal2, kami singgah di SPBU untuk mandi, kamar mandi VIP dengan air hangat dan shower dibandrol dengan harga Rp. 5000,- perorang *criing.
Ada kejadian lucu saat perjalanan pulang, kami disarankan untuk melalui jalur pantura agar lebih dekat oleh para pegawai peternakan, namun supir sewaan kami cukup sotoy untuk menolaknya, haha! supir ini tidak saya sarankan loooh, bandel. Saya penasaran ingin lihat Lapindo, maka saya tetap terjaga selama perjalanan pulang, selain ingin lihat lapindo, saya juga tidak mau tidur untuk menemani pak supir dan kang ido ngobrol agar tidak mengantuk dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya tidak tahu jalan, jadi ketika supir sotoy itu masuk gerbang tol aneh (gerbang tol porong lama yg sudah tidak beraktifitas) jelas-jelas kaca gerbang tol pecah, dan kondisinya gelap plus sepi sekali, awalnya kami tidak terlalu curiga, kami terus jalan, tiba-tiba ada motor, lho! lho! kok di jalan tol ada motor??, ternyata jalur tol ini buntu sodara-sodara! hahaha. Saya agak tertarik akan kota mati di sekitar bendungan lumpur Lapindo, mengingatkan saya akan film i'm legend, doms day, resident evil, dan beberapa film sejenis, horor sekali sungguh sangat, ditambah lagi dengan bayaknya pemuda bergajulan ditengah jalan yang sibuk menyetopi truk untuk mencari tebengan.
Belajar dari pengalaman, kami menganut prinsip "malu bertanya sesat di jalan", dikit2 kami bertanya, pada siapapun, itu penting sekali lho sodara-sodara. Jalanan utara jawa cukup lurus dan monoton, kemungkinan kami nyasar diperkecil, dengan lancar kami melewati Gresik, Tuban, Grobogan, di daerah grobogan kami makan pagi, dengan menu asem-asem ikan hiu (pertama kali makan ikan hiu, so excited!) plus es teh manis, seharga Rp. 17.500,- *criing, Semarang, Brebes, Tegal, Cirebon, Sumedang, dan di Sumedang kami menyempatkan makan sore dengan menu pecel bebek plus es teh manis dengan harga Rp. 16.000,- *criiing. Karena macet, kami sampai di Jatinangor sekitar pukul 9 malam, alhamdulillah selamat sampai tujuan.
Mau tahu pengeluaran saya? hitung aja *criing2 yang di atas, hehe.
Berhubung penelitian baru bisa dilaksanakan esok hari, kami memutuskan mencara sarapan dulu, meluncur ke arah bromo, berharap disekitar situ banyak rumah makan enak. Satu kilometer, dua, tiga, lima, tujuh, kanan kiri hanya kebuh dan rumah penduduk, tidak ada satupun rumah makan *mungkin org bromo udh kaya semua, kagak ada yg buka warung*. Terus menanjak ke atas, kami sampai di pertigaan ke surabaya, yeah, finnaly! ada rumah makan sederhana, lumayan, nasi rawon + kerupuk hanya Rp. 9500,- saja *criing. Habis makan lanjut ke Bromo!! breeem, katanya 19 kilo lagi, kirain deket, ternyataaaa, jauuhh, tapi gak kerasa kok, pemandangannya baguuuus banget! sulit di deskripsikan, hmm, saya coba, hmm, jalanan berlika-liku, sebelah kanan ada perkebunan, tebing dan perumahan penduduk sebelah kiri jurang, ada kali yang berbatu2 juga, pokoknya mantap, agak mendekati bromo, kita akan ngeliat gunung di sebelah kanan yang kelihatan besaaar dan tinggi dan dekaat sekali, alur bekas lava terlihat sagat jelas karena jarangnya pepohonan, baguss!. Setelah agak lama (saya gak ngitung pke stopwatch jd gak tau pastinya), kami di hadang sekelompok calo mobil jeep, sebelumnya kami pikir kami hanya boleh parkir sampai situ, eh ternyata kita diakalin calo, jeep sampai bromo Rp. 300.000,- kalo 3 lokasi ke padang savana, pasir berbisik dan bromo harganya Rp. 500.000,-, buseeet! ogah! kami berpikir cepat, kami bilang: "kita mau jalan kaki aja pak ke bromo nya" alhasil mereka berhenti memaksa dan mempersilahkan kami melanjutkan perjalanan ke atas *fiuh. Sampailah kita di tempat parkir sekaligus paguyuban jeep aseli! harga yang dipatok Rp. 200.000,-/mobil ke bromo sajah, kalo ke 3 lokasi lainnya cukup Rp. 350.000,- sajah sepuasnya, lumayan. Setelah perdebatan dan percekcokan sekian lama dengan teman2 dan supir jeep, kami memutuskan sewa satu mobil (kami sempat nekat mau jalan kaki, padahal nggak tahu medan,hehe) dengan tujuan Bromo saja, patungan Rp. 40.000,- / orang *criing. Jeep merah mengantar kami ke kawasan bromo. Tiket masuk kawasan Bromo Semeru Tengger bagi wisatawan lokal hanya Rp.6000,- saja *criing (qt dapet diskon buy 5 get 1 free loooh). Jalanan menurun menuju kawasan berpasir di hamparan bawah gunung bromo, pemandangan pertama yang saya lihat adalah, pohon-pohon mati sisa dilalap awan panas dari bromo yang bererupsi beberapa bulan yang lalu. Sepanjang mata memandang, kami memasuki lautan pasir, kurang lebih luasnya 5000 hektar (menurut dephut.com), warna pasir hitam, dengan adanya efek2 pasir berterbangan semakin mendramatisasi keadaan, kami serasa ada digurun, tapi gurun pasir yang dinginn sekali.
| Gw, K' Ido, T' Sinta, Gon2, Pak Supir, Maap ya Kang Oki gak ada (fotografer) hehe |
Sejauh pandangan saya sungguh takjub, begitu indah, sekeliling adalah deretan gurung yang berjajar saling beriringan mengelilingi kami, tapi yang saya tau namanya hanya gunung Bromo, Semeru dan gunung Batok. Keluar dari mobil jeepsaat itu serasa masuk freezer saat cuaca panas lho, tiba-tiba dingiiin semriwiiing!. Pantas dandanan warga aseli Bromo (suku tengger) sangat unik, berpakaian super tebal, sarung tangan, plus kupluk dan berselendangkan sarung di badan mereka, kurang lebih seperti ini:
![]() | |
| (mitrasites.com) |
Kita skip aja perjalanan pulang, kemudian proses kami mencari hotel, atas saran pegawai peternakan tempat penelitian teman saya, kami mencari hotel yang namanya hotel Moronyoto, kembali terjadi perdebatan serius masalah hotel, kemudian keputusan tetap ambil 2 kamar di hotel tersebut, satu kamar dua bed, karena kami berenam (plus supir) jadi 3 cowo dan 3 cewe masing2 dalam kamar yang berbeda, harga satu kamar standar (paling murah) double bed fasilitas kipas angin, wc dan tv adalah Rp. 70.000,- plus ekstra bed Rp. 20.000,-, berhubung saya tau diri, jadi saya ikutan bayar buat ekstra bednya aja Rp. 20.000,- *criiing. Kondisi hotel dan pelayanannya tidak akan saya sebutkan disini, silahkan coba sendiri saja ya. Kemudian kami cari makan, jajan, dan istirahat, karena tidak ada yang spesial yang perlu diceritakan mari kita skip sajah ya.
Pagi hari kami bersiap ke peternakan untuk penelitian, penelitian kami hari ini adalah mengukur status faali dan mengambil darah domba. Bagi yang tidak tahu, status faali itu mencakup suhu tubuh/rektal, denyut jantung, nadi dan pernapasan. Pengambilan darah domba dilakukan melalui pembuluh darah vena di daerah leher sebelah kanan atau kiri, menggunakan alat yang dinamakan venoject, yg terdiri atas jarum dan venotube. Domba yang di uji ada 20 ekor, satu ekor domba di ukur faali sebanyak masing-masing 3 kali. Kami mulai pukul 8 pagi dan selesai pukul 8 malam, oiya, kami istirahat makan siang dengan menu nasi jagung + sate + kerang + es teh manis dengan harga Rp. 12.500,- saja *criing. Selesai ambil data penelitian kami pamit, dan langsung pulan, kami singgah untuk dinner di rumah makan bakso di jalan soekarno-hatta Probolinggo. Menu saya malam itu adalah bakso dengan lontong dan segelas es teh manis seharga Rp. 13.000,- *criing. Karena badan bau domba, dan agak gatal2, kami singgah di SPBU untuk mandi, kamar mandi VIP dengan air hangat dan shower dibandrol dengan harga Rp. 5000,- perorang *criing.
Ada kejadian lucu saat perjalanan pulang, kami disarankan untuk melalui jalur pantura agar lebih dekat oleh para pegawai peternakan, namun supir sewaan kami cukup sotoy untuk menolaknya, haha! supir ini tidak saya sarankan loooh, bandel. Saya penasaran ingin lihat Lapindo, maka saya tetap terjaga selama perjalanan pulang, selain ingin lihat lapindo, saya juga tidak mau tidur untuk menemani pak supir dan kang ido ngobrol agar tidak mengantuk dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya tidak tahu jalan, jadi ketika supir sotoy itu masuk gerbang tol aneh (gerbang tol porong lama yg sudah tidak beraktifitas) jelas-jelas kaca gerbang tol pecah, dan kondisinya gelap plus sepi sekali, awalnya kami tidak terlalu curiga, kami terus jalan, tiba-tiba ada motor, lho! lho! kok di jalan tol ada motor??, ternyata jalur tol ini buntu sodara-sodara! hahaha. Saya agak tertarik akan kota mati di sekitar bendungan lumpur Lapindo, mengingatkan saya akan film i'm legend, doms day, resident evil, dan beberapa film sejenis, horor sekali sungguh sangat, ditambah lagi dengan bayaknya pemuda bergajulan ditengah jalan yang sibuk menyetopi truk untuk mencari tebengan.
Belajar dari pengalaman, kami menganut prinsip "malu bertanya sesat di jalan", dikit2 kami bertanya, pada siapapun, itu penting sekali lho sodara-sodara. Jalanan utara jawa cukup lurus dan monoton, kemungkinan kami nyasar diperkecil, dengan lancar kami melewati Gresik, Tuban, Grobogan, di daerah grobogan kami makan pagi, dengan menu asem-asem ikan hiu (pertama kali makan ikan hiu, so excited!) plus es teh manis, seharga Rp. 17.500,- *criing, Semarang, Brebes, Tegal, Cirebon, Sumedang, dan di Sumedang kami menyempatkan makan sore dengan menu pecel bebek plus es teh manis dengan harga Rp. 16.000,- *criiing. Karena macet, kami sampai di Jatinangor sekitar pukul 9 malam, alhamdulillah selamat sampai tujuan.
Mau tahu pengeluaran saya? hitung aja *criing2 yang di atas, hehe.

wih mantab sekali mbahas tentang bromo probolinggo manteb
BalasHapus