Geng 50+- has been changed to The Cacaters

Bagi saya, sahabat itu lebih dari seorang teman. Sahabat itu orang yang terima saya apa adanya. Sahabat bukan hanya hadir dalam kebahagiaan, juga selalu ada disaat kesedihan datang. Sahabat tempat meluapkan segala kisah, sahabat mau mendengarkan apapun cerita-cerita membosankan saya. Sahabat adalah satu-satunya orang yang tidak akan meninggalkan saya hanya karena saya jatuh miskin. Sahabat akan dengan senang hati menerima curahan amarah dan kesedihan saya walaupun tidak bisa banyak membantu. Sahabat adalah orang yang akan merelakan waktunya demi saya yang kesepian. Sahabat saya selalu berhasil memaksa saya tertawa dikala hati sedang gundah. Sahabat tidak akan pernah merasa canggung satu sama lain. Sahabat adalah seorang yang sangat sayang pada saya seperti saudara sendiri. Sahabat akan selalu membantu masalah saya, selalu berada dipihak saya. Sahabat yang baik akan lebih mementingkan sahabatnya dibanding teman-temannya yang lain.
Saya tentunya punya temen main di komplek, temen SD, temen SMP, temen SMA, juga temen Kuliah. Tapi teman itu beda sama sahabat. Hubungan pertemanan bisa berubah menjadi permusuhan, sedangkan persahabatan sejati tidak akan runtuh walau apapun yang terjadi, lekat, erat bagai hubungan keluarga. Saya belum tahu apakan pertemanan saya dengan Geng (The Cacaters) ini bisa disebut hubungan persahabatan, saya tidak tahu mereka menganggap saya sahabat atau sekedar teman biasa. Tapi yang jelas, saya benar-benar tulus menganggap mereka sahabat terbaik yang saya sayangi. 
Mereka adalah Delima Nurrasyidah alias Gon-gon, Agnina Ilma alias Umay, Rizka Zahrarianti alias Kika, Risca Nuranisa Y alias icha, Desi Nur Asrini alias Desi, dan Anna Anggaeni A alias Anggi. Kami bertujuh memulai pertemanan ketika dipertemukan dalam satu kelas yang sama sewaktu kuliah di Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, kami angkatan 2008 kelas B. Awalnya saya hanya berteman dengan Umay karena kebetulan kami satu kamar di asrama, kami setipe, sama-sama gila. Jumlah mahasiswa perempuan di kelas hanya beberapa belas orang, otomatis kami sepermainan walaupun tidak terlalu dekat saat itu. 
Beberapa teman yang sering main sama saya hanya Umay, Rini, Icha, Kika, Desi, Rini, dan A. Fitri, karena A.Fitri  suka mendominasi kami kami agak menjauhinya. Tanpa Fitri kami menamakan diri geng 50an (karena kebetulan NPM kami berawal dari angka 50, saya 51, Umay 52, Rini 54, Icha 55, Kika 56, dan walaupun Desi 73, ia tidak berkeberatan dengan nama geng ini). Saat semester 2 kelas kami dipecah, mayoritas mahasiswa perempuan dikelas kami harus pindah, kemudian kami ketambahan 2 orang perempuan dari kelas sebelah. Total mahasiswa perempuan kelas kami jadi 9 orang, yaitu Saya, Umay, Gon-gon, Anggi, Kika, Desi, Icha, Melia, dan Rini. Karena kegilaan yang sama kami semakin dekat, tapi Melia lebih sering menghabiskan waktunya sendiri atau bersama geng laki-lakinya (dia agak tomboy seperti saya) sedangkan Rini memiliki sifat yang keras, cenderung pemarah, tapi dia tetap baik hati, dia terlalu 'bersih' (dalam arti yang sebenarnya) buat bergaul sama kami yang jorok-jorok ini, beberapa dari kami pernah tersinggung oleh sikap maupun ucapannya, tapi tak apalah, ia tetap baik hati. 
Seiring waktu, yang sering kumpul-kumpul dan main bareng, jajan bareng, makan siang bareng hanya kami bertujuh, Saya, Gon2, Umay, Kika, Anggi, Desi dan Icha. dan kami mulai menyebut diri kami geng 50an plus minus, karena NPM Gon-gon 47 sedangkan Anggi 46. Kami menjalahi kehidupan kampus bersama, suka duka, tawa canda bersama. Kami benar-benar cocok, kami sama-sama belum bisa berpikiran dewasa sesuai dengan umur kami. kami masih kekanak-kanakan dengan segala kekonyolan yang kami buat, kami selalu bertingkah "cacat" (bukan dalam arti yang sebenarnya, cacat atau autis bagi kami adalah segala tingkah konyol yang gila) dimanapun dan kapanpun. Sifat ketidakdewasaan bukan merupakan penghalan bagi pertemanan kami, tapi malah suatu lem yang semakin mengeratkan hubungan kami. 
Entah sejak kapan, kami memutuskan mengganti nama geng menjadi The Cacaters. Kami selau bahagia bersama walau ada sedikit percikan-percikan emosi, tapi tak begitu kami gubris. The Cacaters selalu makan siang bersama di kampus, ngobrol bersama, bolos bersama, kami sangat kompak. Satu memori yang sulit lekang dari ingatan saya, dan merupakan momen  yang paling sering kami lakukan dimanapun dan kapanpun adalah Main Kartu UNO. Kami selalu jadi yang paling awal di kantin tapi jadi orang yang paling terakhir pulang karena keasikan ngobrol dan main Uno. Kami sering merajai loby gedung 5 Fapet dalam rangka hotspotan. Kami adalah orang-orang yang bakal awet muda karena canda tawa selalu menghiasi hari-hari kami. 
Saat semester 6 kami harus terpisah-pisah, Saya dan Gon-gon masuk minat Nutrisi, Anggi, Kika, Umay dan Desi minat THT sedangkan Icha minat Sosek. Tapi kami masih sering kumpul-kumpul dengan intersitas yang berkurang. Intensitas sangat berkurang sejak sindrom mahasiswa tingkat akhir menjangkit kami, kami sibuk masing-masing dengan bahan-bahan penelitian. Saya dan Gon-gon masih selalu bareng karena kami memang se-jurusan dan se-organisasi. Saya dan Umay juga bareng karena kami se-kos-an. Sedih sekali ketika mengingat masa-masa kebersamaan kami, saya kangen kaliaaan..

Komentar

  1. nopaaaa... aku kangeeennn.. cacat, aku kangeenn kalian.. aku butuh kalian, aku ingin brg kalian (T.T)
    skg dunia kita udah beda2, motivasi aku agak turun skg, kecacatan aku jg udah agak buyar, ayoo aku butuh charger..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Backpacker Ke Jogja

Tous Les Jours... "authentic bakery" #enak

Backpacker to Pangandaran